Category Archives: Bekerja

Harta warisan Rasululullah SAW

Harta warisan Rasululullah SAW….

Setelah menjadi Rasulullah, Muhammad SAW tidak lagi menjadi bussinesman ataupun

bussines owner, tetapi beliau fokus dengan kegiatan penyebaran agama Islam. Harta yang

dimiliki Rasululullah SAW dari penghasilan pasif (passive income) yang berasal dari as-shafi,

as-sahm dan fai’.

As-shafi adalah harta ghanimah sebesar seperlima yang dipilih Rasulullah SAW sebelum harta

tersebut dibagikan (QS Al Anfal : 41). As-sahm adalah harta ghanimah di luar seperlima

sebagai bagian keikutsertaan dalam perang. Fai’ adalah adalah harta pemberian untuk

Rasulullah SAW dan kaum muslimin tanpa melalui pertempuran sebagai pemberian, tanda

takluk, dan sebagainya.

Rasulullah SAW adalah wirausahawan dan pemimpin sejati. Kemenangan2 perang membuat

kekayaan beliau melimpah, namun beliau selalu mendahulukan kepentingan umat melebihi

kepentingan dirinya sendiri.Menurut catatan Ali Syuaib, saat perang Hunain beliau menerima

90.000 dirham tetapi uang itu dibagikan kepada orang banyak sampai habis, setelah perang

Hunain beliau pernah membagikan 1.500 ekor unta lebih kepada beberapa orang Quraisy dan

sebagainya.

Beliau sangat dermawan sehingga meskipun kaya raya, saat beliau wafat bukan harta

kekayaan yang diwariskan kepada keluarga dan umatnya, melainkan ajaran Islam yang mulia

untuk umat Islam semuanya.

“Tidak pernah dihalalkan ghanimah kepada seorang nabi pun sebelum kita. Halalnya ghanimah

bagi kita karena Allah mengetahui kelemahan dan ketakberdayaan kita” (HR. Bukhari dan

Muslim). “Jangan kau berhitung dalam memberi sedekah karena Allahpun tidak pernah

berhitung dalam memberikan rezeki kepada kita “ (HR. Nasa’i, Ibnu Hibban, Ahmad dan

Haitsami).

Orang kaya bukanlah orang yang banyak harta

Orang kaya bukanlah orang yang banyak harta ….

Orang yang banyak harta namun hatinya terus menerus dihantui oleh rasa takut, takut

penghasilannya tidak cukup atau takut pemasukannya berkurang adalah orang yang terikat

dengan harta. Demikian pula dengan orang yang mengaku tidak tertarik terhadap uang namun

dalam kenyataannya harus bekerja keras selama lebih dari 8 jam sehari untuk mendapatkan

uang adalah orang yang terikat dengan harta. Keterikatannya dengan harta membuat dirinya

rela menjadi budak uang dan mau melakukan apa saja demi uang bahkan dengan cara yang

batil dan mereka bukanlah orang kaya sesungguhnya

Orang yang banyak harta namun tidak mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan,

mempriotaskan pengeluaran satu dengan lainnnya atau membedakan penghematan dengan

kekikiran bukanlah orang kaya yang sesungguhnya. Mereka akan menjadi seorang pemboros

atau sebaliknya, menjadi orang yang kikir terhadap dirinya dan orang lain. Mereka tidak dapat

memanfaatkan harta dengan benar dan lupa tidak memikirkan pengeluaran untuk hari esok

dan pengeluaran untuk hari akhirat.

“Abu Said Al Khudri menyatakan, ‘yang disebut kaya bukanlah kaya harta benda duniawi.

Tetapi yang dikatakan kaya itu adalah kaya jiwa (hati)” (HR. Muslim).

Memproteksi kekayaan

Memproteksi kekayaan…..

Lindungilah harta benda dalam bentuk asuransi syariah yang mengelola asuransi sesuai akad

tabbaru, mudharabah, musyarakah atau ijarah. Akad tabarru bila dimaksudkan untuk menolong

sesama peserta yang terkena musibah. Akad mudharabah bila lembaga itu hanya mengelola

dana peserta. Akad musyarakah bila lembaga mengelola dana peserta berikut dana milik

lembaga itu. Akad ijarah bila lembaga mendapat fee (ujrah) karena menerima kuasa (wakalah)

untuk mengelola dana peserta.

Memproteksi harta benda yang benar adalah sesuai akadnya atau satu akad saja dan tidak

dibenarkan mengalihkan sebuah akad ke dalam akad lainnya. Proteksi dilakukan dengan

prinsip tolong menolong melalui investasi aset (tabarru) atau memberikan pola pengembalian

dalam menghadapi resiko melalui akad mudharabah, musyarakah, atau ijarah. Peserta asuransi

menghibahkan sebagian investasi asetnya untuk membayar klaim peserta lain yang terkena

musibah sehingga perusahaan hanya berfungsi mengelola investasi yang dilimpahkan oleh

peserta.

“Dari Ibnu Mas’ud ia berkata bahwa Rasulullah SAW melarang dua kesepakatan dalam satu

kesepakatan” (HR. Ahmad).

Investasi yang halal

Investasi yang halal…..

Untuk menjamin agar penghasilan kita tetap mengalir ke dalam kolom pemasukan, maka dapat

dilakukan investasi berupa produk perbankan. Investasi harus dilakukan secara halal dan

mendatangkan kemaslahatan bagi semua pihak, baik pemilik, lembaga pengelola maupun

masyarakat karena Allah akan melaknat penimbun harta yang tidak menafkahkan hartanya

dengan benar.

Harta benda yang yang diinvestasikan harus terhindar dari praktek riba (keuntungan berganda-

ganda), ghoror (transaksi yang tidak jelas) dan maysir (spekulasi). Pilihlah lembaga perbankan

yang mengelola tabungan (wadhiah yad dhamanah), deposito (mudharabah), valuta asing

(sharf), obligasi (bai al dayan), emas dan produk perbankan lainnya dengan prinsip syariah.

Perbankan yang bebas riba adalah bank yang menerapkan bagi hasil dalam bentuk prosentase

dengan jumlah yang wajar dan tidak menggunakan prosentase yang tetap sehingga

keuntungan dan kerugian ditanggung berwsama oleh bank dan nasabah.

”Berikanlah kesempatan kepada mereka yang memiliki tanah untuk memanfaatkannya, dengan

caranya sendiri dan jika tidak dilakukannya, hendaklah diberikan orang lain agar

memanfaatkannya” (HR. Muslim).