Category Archives: Haji

Sunnah2 sebelum, sesaat dan sesudah sholat idul adha

“Anas berkata, ‘Rasulullah SAW datang di Madinnah sedangkan penduduknya mempunyai dua hari raya yang mereka gunakan untuk permainan dan bersenang, maka beliau pun bersabda, ‘Allah telah mengganti kedua hari raya engkau dengan dua hari raya yang lebih baik, yaitu iedul fitri dan iedul adha” (HR. Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Sebelum sholat idul adha.

1. Memakai busana terindah dan parfum terbaik. (HR Al Hakim)
2. Makan kurma atau sesuatu yang manis sebelum Sholat ied. (HR Ahmad dan Bukhari).
3. Jalan kaki menuju lapangan walau punya kendaraan. (HR. Tirmidzi).

Pada saat sholat idul adha….

4. Pergi ke mesjid atau tempat sholat dengan pulangnya lewat jalan yang berbeda. (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).
5. Tidak ada sholat apa pun di lapangan, baik sebelum ataupun sesudah sholat ied.
6. Takbiran, termasuk yang sedang haid, tapi menjauh dari tempat sholat (HR. Bukhari).
7. Sholat ied sebelum khutbah (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Mendengarkan khutbah, walaupun sedang haid (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Berjabat tangan dengan sesama muslim. (HR. Tabrani).

Sesudah sholat idul adha….

10. Sesampainya di rumah melakukan sholat dua roka’at (HR. Ibnu Majah).
11. Makan sesudah melaksanakan sholat Ied. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hiban).
12. Berkurban dengan hewan terbaik (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
13. Menyaksikan penyembelihan hewan qurbannya. (HR. Al Hakim).

“Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah” (QS. Al-Kautsar : 2).

Harap di share kembali…

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Andaikan kambing bisa bicara

Jika kita mengerti bahasa kambing, mungkin kita bisa memahami perbedaan qurban jaman dahulu dengan jaman sekarang. Simak percakapan imajiner saya dengan kambing qurban jaman dulu (K-D) dan kambing qurban jaman sekarang (K-S).

Saya bertanya kepada kambing qurban jaman dulu (K-D), “Apakah kamu senang terpilih sebagai hewan qurban?” K-D menjawab singkat “Mbek” artinya “Ya”.

Saya bertanya lagi, “Mengapa?” K-D menjawab lebih panjang, “Embeeeekkkkk” artinya, “Aku senang, karena kematianku membuat Allah merasa senang”.

Saya melanjutkan, “Mengapa Allah merasa senang?” K-D menjawab, “Embeekkkk” artinya, “Karena aku dikurbankan penuh dengan keikhlasan”.

Pertanyaan saya beralih kepada salah satu kambing qurban jaman sekarang (K-S), “Apakah kamu senang terpilih sebagai hewan qurban?” K-D menjawab singkat “Mbeek” artinya “Tidak!”.

Saya bertanya lagi, “Mengapa?” K-S menjawab, “Embeeeekkkk… Embeeeekkkk…” artinya “Banyak manusia yang berkurban bukan untuk mencari keridhoan Allah, mereka mengira kurbannya akan sampai kepada Allah, padahal tidak ada satu pun yang sampai, tidak dagingku, tidak darahku, bahkan tidak pula selembar buluku”.

Saya bertanya lagi, “Lho kok begitu?” K-S menjelaskan, “Embeeeekkkk… Embeeeekkkk…” artinya “Banyak manusia berkurban bukan semata-mata untuk Allah, tetapi berkurban karena malu kepada tetangganya, sudah kaya kok nggak berkurban. Mereka berkurban karena riya’, lihat kambingku paling besar, lihaaat aku lah yang paling banyak kurbannya”.

Pelajaran yang dapat dipetik dari percakapan imajiner di atas adalah supaya ikhlas dalam berkurban dan semata-mata mengharap keridhoan Allah dalam beribadah. Setelah berkurban, semoga kita kurbankan pula “sifat binatang” dalam diri kita dengan menghentikan maksiat, mengumbar nafsu syahwat seperti lain, memaksa dengan kekuatan dan perilaku2 kebinatangan lainnya.

“Saya disuruh menyembelih (hewan) qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu” (HR Tirmidzi).

Puasa arafah dan wuquf di Arafah

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Puasa arafah dan wuquf di Arafah sama2 tanggal 9 dzulhijah, namun tidak ada hadits yang menyatakan bahwa keduanya harus dikerjakan bersamaan. Pelaksanaan puasa arafah dan wuquf bisa sama tapi bisa juga berbeda tergantung tempat domisili dan rukyat terhadap hilal. Hilal adalah bulan sabit pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi, ijtimak atau bulan baru pada arah matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam.

Orang2 yang berada di Mekkah dan sekitarnya dapat dipastikan akan melaksanakan puasa arafah dan wuquf di hari yang sama, tapi orang2 yang jauh dari Mekkah tergantung hasil rukyat. Tahun 2014, hasil rukyat di Saudi Arabia berbeda dengan Indonesia. Di Saudi Arabia tanggal 9 dzulhijah jatuh pada hari Jum’at sedangkan di Indonesia hari Sabtu. Sesuai hadits riwayat Muslim, orang yang ada di Saudi Arabia melaksanakan puasa arafah pada hari Jum’at sedangkan di Indonesia pada hari sabtu.

Pelaksanaan ibadah dalam Islam ditentukan oleh tempat domisili dan waktu qomariyah, artinya ketika orang2 di Saudi Arabia sudah melaksanakan puasa arafah, maka orang2 di Indonesia belum karena masih tanggal 8 dzulhijah. Demikian juga ketika orang2 di Saudi Arabia sudah masuk 10 dzulhijah dan sudah idul adha, maka orang2 di Indonesia masih ada di tanggal 9 dzulhijah dan melaksanakan puasa arafah. Ini terjadi karena ada selisih waktu 4 jam (menurut kalender syamsiyah) atau 20 jam (menurut kalender qomariyah) antara Indonesia dan Saudi Arabia sehingga berdasarkan kalender qomariyah pelaksanaan puasa arafah dan idul adha di Saudi Arabia lebih dulu daripada Indonesia.

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘bulan sabit itu adalah tanda2 waktu bagi manusia dan haji” (QS. Al Baqarah/2 : 189).

Pembagian hewan qurban

“Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi SAW memerintahkan dia untuk mengurusi unta2 hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang2 miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hewan qurban yang telah disembelih harus dibagikan semua kepada orang2 di sekitarnya dan tidak boleh sedikit pun dijual. Hentikan kebiasaan menjual kulit, kepala atau bagian lain hewan qurban untuk biaya pemotongan atau biaya operasional panitia. Pembagian hewan qurban ditujukan terutama kepada orang2 miskin yang tidak pernah atau jarang merasakan lezatnya kambing, sapi atau unta.

Semua daging, tulang sampai kulit hewan qurban sebaiknya diberikan seluruhnya kepada orang lain, meskipun shohibul qurban juga diperbolehkan kalau ingin makan dan menimpan beberapa bagian. Kulit atau asesories lain yang melekat pada hewan qurban dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan atau dimanfaatkan untuk perlengkapan masjid dan dilarang untuk diperjual belikan. Selain orang2 miskin, hewan qurban boleh dibagikan kepada teman, sahabat, kerabat, saudara, orang2 kaya bahkan orang2 non muslim sekalipun.

“Maka makanlah sebagian darinya” (QS. Al-Hajj : 28).

Harap di share kembali, insya Allah berbuah pahala bagi anda….

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674