Category Archives: Keluarga

Ada alasan untuk bercerai

Ada alasan untuk bercerai…..

 

Tak selamanya rumah tangga yang dibina oleh sepasang suami isteri itu berjalan indah meskipun rumah tangga yang sakinah sangatlah didambakan, terutama dalam hal pemberian nafkah. Suami wajib memberikan nafkah lahir dan batin tehadap istri dan anak2nya, maka dia akan berdosa jika melalaikan kewajibannya ini terlepas dirinya mampu ataupun tidak mampu memberikannya.

 

Jika suami memiliki kemampuan harta namun tidak mau memberikannya, maka ssteri dapat mengambil haknya dengan sepengetahuan suami atau tanpa sepengetahuan suami, baik dengan tangannya sendiri atau melalui hakim Pengadilan Agama. Jika nafkah yang menjadi haknya tersebut tidak dapat diambil, maka sang isteri dapat menuntut perceraian. Jika isteri gagal mendapatkan nafkah karena suaminya miskin, hartanya tidak diketahui keberadaannya atau suaminya menghilangkan hartanya maka isteri dapat menggugat perceraian ke pengadilan agama.

 

Saat menikahi isterinya, sang suami telah menngucapkan sighat takliq di depan petugas KUA dan pengadilan agama mempunyai wewenang untuk memaksa seorang suami memenuhi kewajiban memberi nafkah kepada isteri dan anak2nya atau memisahkan suami dari isterinya. Hakim dapat memutuskan perceraian karena suami telah melanggar salah satu poin dalam shighat takliq, sebagai berikut ::

(1) Meninggalkan isteri selama dua tahun berturut-turut

(2) Tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama tiga bulan lamanya

(3) Menyakiti badan/jasmani isteri atau

(4) Membiarkan (tidak mempedulikan) isteri selama enam bulan.

 

“Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Dawud).

 

”Menggenggam (istri) dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al Baqarah : 229).

Jangan main2 dengan kata cerai

Jangan main2 dengan kata cerai ….

 

Seorang suami terkadang merasa tidak menyukai perilaku isterinya yang dinilainya kurang patut atau melanggar syariat agama. Suami yang buruk akan mensikapinya dengan keras bahkan kalau sudah memuncak kemarahannya akan terlontar kata2 yang mengarah perceraian. Ucapan “cerai” dan ucapan yang semaksud dengan ucapan itu tidak serta merta membuat suami isteri bercerai apa lagi bila diucapkan dengan marah dan tanpa niat untuk menceraikan.

 

Meskipun demikian, seorang suami tidak boleh bermain2 atau sembarangan mengucapkan kata “cerai” di depan isterinya, karena bisa jadi akan jatuh talak meskipun diucapkan dengan bergurau, apa lagi jika ucapan tersebut dilakukan dengan sungguh2 dan disertai dengan niat.

 

Seorang suami terkadang berselisih dengan isterinya karena sesuatu hal sehingga secara sungguh2 atau bergurau, tercetuslah kata2 yang bermakna perceraian. Kata2 seperti “aku ceraikan kamu” “baiknya kita pisah saja” “sebaiknya kita akhiri hubungan kita” dan kata2 yang senada dengan kata2 itu sudah cukup untuk membuat perceraian dapat terjadi, terutama kalau disertai niat.

 

Pertengkaran atau perselisihan suami isteri terkadang memang mengarah kepada penceraian, namun penceraian ini tidak boleh dijadikan sebagai langkah pertama dalam menyelesaikannya. Hendaknya diusahakan berbagai cara untuk menyelesaikannya, karena kemungkinan besar akan banyak rasa penyesalan yang ditimbulkan kelak dikemudian hari.

 

“Ada 3 hal yang kesungguhannya dan gurauannya sama2 dianggap sungguh2 yaitu : Nikah, talak (cerai) dan Rujuk” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

“Apabila kamu mentalak isteri2mu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula)” (QS. Al Baqarah : 231).

Solusi untuk isteri yang tidak diberi nafkah

Solusi untuk isteri yang tidak diberi nafkah…

 

Suami wajib memberikan nafkah lahir dan batin tehadap istri dan anak2nya, sementara isteri mempunyai kewajiban untuk taat kepada suami. Jika suami dengan sengaja mendzalimi isteri dan anaknya dengan tidak memberinya nafkah, maka idia berdosa karena telah melalaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah bagi anak2nya.

 

Jika suami yang tidak memberikan nafkah itu memiliki harta yang tampak maka dibolehkan bagi istrinya untuk mengambil nafkah yang menjadi haknya itu dengan sepengetahuan suami atau tanpa sepengetahuan suami. Sang isteri tidak berhak untuk menuntut perceraian karena dimungkinkan baginya untuk mendapatkan nafkahnya itu tanpa perlu perpisahan.

 

Jika suami yang tidak memenuhi kewajiban tersebut tampak memiliki harta dan dapat diambil karena dekat, maka tidak diperbolehkan adanya perceraian oleh hakim Pengadilan Agama. Jika suami yang tidak memenuhi kewajiban tersebut memiliki harta yang jauh, namun hakim berhasil mendatangkannya untuk isteri, maka isteri tidak ada hak menuntut perceraian.

 

Jika suami yang menahan nafkahnya itu tidak diketahui dalam keadaan kaya atau miskin, maka tidak boleh ada pemisahan karena penyebab untuk dilakukan perceraian tidak terwujud. Sebaliknya, jika suami diketahui tidak memiliki harta yang cukup (miskin), hartanya tidak diketahui keberadaannya atau suaminya menghilangkan hartanya maka isteri dapat mengangkat permasalahan ini kepada hakim untuk menuntut perpisahan dari suaminya.

 

Jika isteri gagal mendapatkan nafkah karena suaminya miskin, hartanya tidak diketahui keberadaannya atau suaminya menghilangkan hartanya maka isteri dapat menggugat perceraian. Sang isteri juga dapat mengajukan gugatan perceraian karena suami tidak memenuhi salah satu poin dalam shighat takliq yang telah diucapkannya di depan petugas KUA.

 

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang2 yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Muslim).

 

“…dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 233).

Memberikan nafkah untuk isteri dan anak2

Memberikan nafkah untuk isteri dan anak2….

Kewajiban utama seorang lelaki saat menjadi suami adalah memberi nafkah kepada isteri dan anak2nya kelak, baik nafkah lahir maupun nafkah batin. Jenis dan jumlah nafkah yang diberikan oleh seorang suami terhadap isteri dan anak2nya sangat tergantung dengan keadaan, waktu dan zamannyanya. Penghasilan suami dapat diberikan dalam bentuk tunai atau transfer melalui lembaga keuangan, demikian pula dengan uang jajan anak2.

Jumlah uang yang diberikan kepada isteri dan anak2 tergantung kepada kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rezeki ataukah tidak. Besarnya juga tergantung kebutuhan setiap tempat, karena harga kebutuhan pokok dan jajanan di Jakarta tidak sama dengan di kota kecil. Uang yang diberikan tahun kemarin dengan sekarang juga tidak bisa disamakan karena ada kenaikan2 harga.

Isteri yang dapat mengatur keuangan tentu berbeda dengan isteri yang tidak mampu mengaturnya. Kepadanya dapat diserahkan sebagian besar penghasilan suami bahkan seluruh uang, namun bagi orang yang tidak mampu mengaturnya, tentu tidak baik kalau sang suami menyerahkan seluruh uang padanya.

Demikian pula dengan uang jajan anak2, kalau anaknya masih kecil tentu berbeda dengan anak2 yang sudah besar. Ketika anak2 masih di SD, uang jajannya disesuaikan dengan jenis jajanan yang dikonsumsi dan ditingkatkan setelah duduk di bangku SMP, SMA dan perguruan tingi. Uang jajan dapat diberikab secara harian ketika anak2 di SD, tetapi setelah SMP dapat diberikan secara mingguan dan setelah SMA atau perguruan tinggi dapat diberikan secara bulanan.

“Sabda Nabi SAW kepada Hindun, ‘Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak2mu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari).

“Kaum laki2 adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki2) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki2) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS An-Nisa : 34).