Category Archives: Kewirausahaan

Kekayaan harta dan jiwa

Kekayaan harta dan jiwa….

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat kaya raya. Beliau mewariskan kekayaan yang tiada ternilai kepada keluarganya bahkan kepada umat Islam seluruh dunia. Beliau tidak mewariskan harta benda yang dapat musnah dalam sekejap mata, melainkan memberikan warisan dalam bentuk kekayaan jiwa.

Kekayaan dalam bentuk harta benda bukanlah sesuatu yang sulit untuk Rasulullah SAW. Beliau adalah pebisnis sukses sehingga dapat memberikan 100 ekor unta atau sekitar 12 miliar rupiah ketika meminang Khadijah menjadi isterinya. Beliau tidak meninggalkan harta benda karena seluruh hartanya digunakan untuk dakwah seperti yang dia berikan kepada Shofwan bin Umayyah dengan hadiah 200 ekor ternak agar berpihak kepada Islam (HR. Muslim).

Allah memberikan mujizat kepada Rasulullah SAW dapat mendatangkan makanan yang tak pernah habis dimakan oleh banyak orang kendati yang diberikan hanya setengah gantang gandum (HR. Muslim). Tapi beliau dan keluarga memilih hidup sederhana bahkan menurut Aisyah tak pernah keluarga Rasulullah SAW dua hari berturut-turut kenyang dengan roti gandum sampai beliau meninggal (HR. Bukhari dan MUslim).

Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW yang tetap zuhud meskipun kaya raya karena akan memberi kebahagiaan dunia dan akhirat. Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta, tetapi kita begitu yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada harta yang ada di tangan kita.

“Tetapi kamu (orang2 kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al A’laa: 16-17).

Tulisan ini harap di share kembali, insya Allah berbuah pahala bagi anda….

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Upah buruh dan pekerja menurut ajaran Islam

Lebih dari seribu limaratus tahun yang lalu Rasulullah SAW telah memperhatikan kaum pekerja atau kaum buruh agar upahnya dibayarkan dengan benar dan segera. Prinsip pertama dalam pembayaran upah pekerja atau buruh adalah membayarnya sesegera mungkin atau bila mungkin bayarlah di muka pada saat memulai pekerjaan.

Ajaran Islam tidak menetapkan jumlah tertentu dalam pembayaraan upah pekerja atau buruh, namun menekankan pentingnya kecukupan upah dalam memenuhi kebutuhan pokok bahkan bila mungkin melebihi. Sekedar informasi saja, sesuai kesepakatan Dewan Pengupahan dengan Pemerintah Provinsi seluruh Indonesia, upah minimum provinsi 2014 untuk para pekerja atau buruh telah mengalami kenaikan, diantaranya DKI Jakarta Rp 2,441 juta
(naik 11%), Banten Rp 1,325 juta (naik 13%), Jawa Barat Rp 1 juta (naik 18%), Jawa Tengah Rp 0,91 juta (naik 10%), Jogjakarta Rp 0,989 juta (naik 4%) dan Jawa Timur Rp 1 juta (naik 15%).

“Dari Abdullah bin Umar, Nabi SAW bersabda, ‘berikan upah pegawai (buruh) sebelum kering keringatnya” (HR. Ibnu Majah)

Jadi, jangan demo terus ya…. Bikin susah pengguna jalan bro..

Etika bisnis dalam Islam

Etika bisnis dalam Islam….

“Dari abu Juhaifah ia berkatan ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang harta hasi penjualan darah, penjualan anjing dan budak perempuan yang dipekerjakan untuk berzina. Beliau melaknat perempuan yang menjual tato, perempuan yang meminta ditato, orang yang memakan harta riba, orang yang memberikan riba, dan orang yang membuat patung” (HR. Bukhari).

Mencari penghasilan harus sesuai dengan etika bisnis yang sesuai syariat Islam, yakni mendapatkan keuntungan dengan berperilaku yang baik dalam berusaha. Etika bisnis dalam Islam diawali dengan niat yang tulus karena segala amal tergantung dari niatnya.

Untuk menghasilkan keuntungan bisnis yang barokah maka ciptakanlah usaha yang halal. Allah menghalalkan yang baik2 kepada manusia dan mengharamkan yang buruk2 seperti menjual darah, bangkai, anjing, babi, minuman keras, patung, pelacuran, pedukunan, dan sebagainya.

Lakukan bisnis dengan mengedepankan budi pekerti yang luhur misalnya tidak menimbun barang atau menunda pembayaran utang. Penuhi hak2 para karyawan misalnya tidak melakukan korupsi atau menunda pembayaran gajinya.

Dalam berbisnis juga supaya menghindari riba dan segala sarana riba, hindari mengambil harta orang lain dengan cara yang batil, dan menghindari segala sesuatu yang memudaratkan atau membahayakan orang lain. Hindari penggunaan uang suap, penipuan, manipulasi, mengkamuflase harga atau memanfaatkan ketidaktahuan orang lain terhadap barang atau jasa yang ditawarkan

“Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (QS. An Nisaa : 29).

Tulisan ini harap di share kembali, insya Allah berbuah pahala bagi anda….

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Penghasilan2 haram

Penghasilan2 haram…

“Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, ‘Benar2 akan datang kepada manusia suatu masa, saat itu orang tidak lagi memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta kekayaan, apakah dari jalan yang halal ataukah jalan yang haram” (HR. Bukhari, An Nasa’i dan Ahmad).

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk mencari penghasilan halal dan melarang mendapatkannya dengan cara2 yang haram. Harta yang halal mendatangkan berkah dunia dan akhirat. Harta yang haram mendatangkan kesengsaraan di dunia, dan menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.

Pekerjaan2 haram menurut Hadits diantaranya :
1. Dari Abu Hurairah : Memakai sihir, memakan riba dan harta anak yatim (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Dari Abu Mas’ud : Menjual anjing, mendapat upah pelacuran dan pedukunan (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Dari Abu Juhaifah : Menjual darah, anjing, mendapat upah pelacuran, membuat tato dan patung (HR. Bukhari).
4. Dari Jabir bin Abdillah : Menjual minuman keras, bangkai, babi dan patung (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Dari Ma’mar : Menimbun barang (HR. Muslim, Tirmidzi dan ibnu Majah).
6. Dari Ma’qil bin Yasar : Korupsi (HR. Bukhari dan Muslim).
7. Dari Abu Hurairah : Menunda bayar utang (HR. Bukhari dan Muslim).
8 Dari Abu Hurairah : Menunda bayar gaji (HR. Bukhari).
9. Dari Abu Sa’id Al Khudri : Membantu pemimpin zalim (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Pekerjaan2 haram menurut Al Qur’an diantaranya :
1. Memakan harta anak yatim (QS.An Nisa : 10).
2. Memakan harta orang lain (QS.An Nisa : 29).
3. Mencuri (QS.Al Maidah : 38).
4. Memakan riba (QS.Al Baqarah : 278).
5. Berjudi (QS.Al Maidah : 90).
6. Melacur atau membantunya (QS.Al Isra : 32).
7. Membantu pemimpin zalim (QS.Al Maidah : 2).

“Hai orang2 yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kalian” (QS.An Nisaa : 29).

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674