Category Archives: Puasa

Polygami di Surga

“Rombongan yang pertama kali masuk surga dalam bentuk rembulan di malam purnama, dan rombongan berikutnya seperti bintang yang bersinar paling terang, hati2 mereka satu hati, tidak ada kebencian dan saling dengki diantara mereka. Masing2 mereka mendapatkan dua istri dari bidadari, yang nampak sumsum betis2 bidadari2 tersebut di balik tulang dan daging (karena cantiknya)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meskipun polygami tidak dilarang Allah dan Rasul-Nya, pada umumnya seorang wanita sangat alergi terhadap polygami lebih2 bagi seorang wanita yang menjadi isteri pertama. Kalau pun ada isteri pertama yang bisa menerima kehadiran isteri kedua atau isteri kedua bisa menerima isteri pertama, maka akan sangat rentan dengan munculnya kebencian dan kedengkian diantara mereka.

Keadaan isteri2 yang dipolygami di dunia berkebalikan dengan keadaan mereka di akhirat. Perasaan saling membenci dan saling mendengki akan lenyap di telan api neraka. Di dalam surga, isteri pertama dan isteri kedua akan mempunyai satu hati bahkan satu hati pula dengan 70 bidadari yang disediakan Allah bagi para suami2 shaleh yang menjadi penghuni surga. Masya Allah.

“Di dalam surga2 itu ada bidadari2 yang baik2 (akhlaknya) lagi cantik2 (parasnya)” (QS. Ar Rahman/55 : 70)

“Bidadari2 yang jelita, putih bersih, dan dipingit dalam rumah.” (QS. ar-Rahman/55 : 72)

“Di sisi mereka ada bidadari2 yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (QS. Ash Shaffaat/37 : 48-49)

“Di dalam surga itu ada bidadari2 yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni2 surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman/55 : 56—58).

Sidang isbat, puasa Arafah dan waktu qurban

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah sholat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada tanggal 9 Dzulhijah umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan puasa arafah, dan sebagian yang lain merangkainya dengan puasa tarwiyah 8 Dzulhijah. Puasa arafah dilaksanakan sehari sebelum Idul Adha dan setelah sholat Ied barulah boleh dilaksanakan penyembelihan hewan qurban.

Ketepatan penentuan 9 dan 10 Dzulhijah sangat penting, karena kalau meleset maka puasa arafah yang dikerjakan menjadi haram dan penyembelihan hewan qurban juga tidak sah. Pertimbangan ini penting karena umat Islam Indonesia sering berbeda pendapat tentang penetapan idul adha padahal sudah ada lembaga yang sangat kompeten menangani hal ini.

Melalui sidang isbat yang melibatkan seluruh pakar astronomi dan tokoh agama, Pemerintah RI sudah menetapkan bahwa tanggal 10 Dzulhijah 1435 adalah hari Minggu. Oleh karenanya, puasa arafah boleh dilaksanakan pada hari Sabtu dan penyembelihan hewan qurban dinyatakan sah setelah pelaksanaan sholat Ied pada hari Minggu atau sesudahnya (hari tasyrik). Umat Islam wajib mematuhi ketetapan pemerintah sebagaimana perintah Allah agar umat selalu taat kepada ulil amri.

Bagi yang memiliki pendapat berbeda sebaiknya menyembelih hewan qurban pada hari Minggu, jangan hari Sabtu, supaya tidak mengganggu umat Islam yang sedang melaksanakan puasa arafah. Ini juga sekaligus untuk menjamin keabsahan penyembelihan hewan qurban karena dlakukan sesudah waktu sholat Ied.

“Hai orang2 yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya dan kepada Ulil Amri diantara kamu …” (QS. An Nisa: 59).

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Membayar fidyah

Puasa Ramadhan wajib dilaksanakan selama 1 bulan dan bagi yang meninggalkannya karena alasan yang syar’i dapat menggantinya diluar bulan Ramadhan. Mereka yang sedang sakit atau dalam perjalanan boleh meninggalkannya dan dapat menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Orang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena alasan yang syar’i dapat menggantinya, namun bagi yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan seperti itu, puasanya tidak dapat diganti. Orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan yang syar’i tidak dapat menggantinya di luar Ramadhan kendati dia berpuasa seumur hidup.

Bagi orang yang tidak menjalankan puasa karena tidak mampu untuk menjalankan puasa karena tua dan sebagainya tidak wajib menggantinya dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan. Mereka hanya diwajibkan membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkannya. Barangsiapa yang memberikan fidyah lebih dari yang ditentukan, maka itu adalah suatu kebaikan baginya.

“Ibnu Abbas berkata, ‘sesungguhnya ayat 184 surat Al Baqarah (membayar fidyah) berlaku untuk pria dan wanita yang sangat tua, yang tidak kuat melaksanakan shaum, maka wajib bagi mereka memberi makan seorang miskin dikalikan dengan banyaknya hari tidak shaum” (HR. Bukhari).

Mengganti puasa

Orang Islam wajib menjalankan ibadah puasa dan bagi yang meninggalkannya karena sakit, musafir, haid, melahirkan, menyusui, uzur atau karena halangan lain yang bersifat syar’i. Orang yang meninggalkan puasa di bulan Raamadhan tersebut kemudian berkewajiban untuk menggantinya dengan berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari lain di luar bulan Ramadhan.

Demikian juga bila ada kerabat yang meninggal dunia di bulan Ramadhan sementara ada kewajiban puasa yang ditinggalkannya, maka walinya harus menggantikan kewajiban puasanya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Bagi mereka yang batal puasa karena melakukan hubungan suami isteri ketika sedang puasa, maka diwajibkan membayar kafarat, sedangkan bagi mereka yang tidak dapat memenuhi kewajibannya mengganti puasa yang ditinggalkannya itu, maka diwajibkan untuk membayar fidiyah.

“Dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, barangsiapa seseorang wafat dengan meninggalkan puasa maka puasa itu digantikan oleh walinya” (HR. Bukhari).