Category Archives: Rahasia kekayaan

Sumber kekayaan Rasulullah SAW

Sumber kekayaan Rasulullah SAW …

“Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu petunjuk dan ketakwaan, keluhuran budi dan kekayaan” (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Boleh saja berharap untuk menjadi orang kaya, namun ingatlah bahwa kekayaan yang kita miliki akan ditanya asal dan tujuannya. Kekayaan yang kita miliki itu bukan hanya akan dipertanyakan dari mana asalnya, namun ditanyakan juga untuk apa kekayaan itu dibelanjakan.

Kekayaan yang kita miliki merupakan salah satu perkara yang akan membebani kita di hari kiamat. Kedua kaki kita tak akan bergeser dari hadapan Allah sebelum ditanya tentang umurnya untuk apa kita habiskan, masa mudanya untuk apa kita pergunakan, ilmunya sudahkah kita amalkan, serta dari mana harta kita diperoleh dan untuk apa harta itu kita belanjakan.

Maka dari itu marilah kita melakukan pekerjaan yang halal dari hasil keringat kita sendiri dan tidak menjadi peminta-minta sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebelum mendapatkan penghasilan dengan berdagang ke negeri Syam, Rasulullah SAW mendapatkan penghasilan dengan menggembalakan kambing. Setelah menjadi Rasul Allah, beliau memusatkan perhatiannya untuk berdakwah dan hidup secara sederhana dari harta yang dimilikinya.

Pada saat hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mendapatkan imbalan dengan mengerjakan lahan kaum Ansar. Pada masa perang, Rasulullah SAW mendapatkan penghasilan dari rampasan perang dan lahan pertanian yang digarap dari wilayah yang berhasil ditaklukkan.

“Apabila telah ditunaikan sholat Jum’at, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah dan banyaklah mengingat Allah supaya kalian beruntung” (HR. Al Jumu’ah/62 : 10).

Tulisan ini harap di share kembali, insya Allah berbuah pahala bagi anda….

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Cerita akhir pekan : 0rang kaya dan orang zuhud

Cerita akhir pekan : 0rang kaya dan orang zuhud…

Seorang motivator berkata dengan penuh semangat, “Jadilah orang kaya seperti Bill Gates, orang terkaya di dunia yang kekayaannya 76 miliar dollar atau 886 triliun rupiah, fantastis bingitss!!!” Kekayaannya, menurut lembaga survey Oxfam tidak habis dimakannya selama 218 tahun.

Motivator itu meneruskan ceritanya tentang orang terkaya di Indonesia. Dia berkata dengan tidak kalah semangat, “Anda juga bisa meneladani Budi Hartono, si raja tembakau yang sudah bertahun-tahun menjadi orang terkaya di Indonesia!!”

Banyak orang2 yang ingin kaya seperti Budi Hartono atau Bill Gatesn bahkan melakukannya dengan menghalalkan berbagai cara, tak perduli halal atau haram. Mereka tidak menyadari bahwa “sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal” (QS. Al Mukmin : 39).

Sejatinya, umat Islam tidak dilarang untuk kaya, namun yang terbaik adalah orang yang berlaku zuhud. Perilaku zuhud akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat dengan sikapnya yang rendah hati.

Orang zuhud hanya sedikit berharap dengan keistimewaan dunia dan tidak menganggap dunia ini luar biasa sehingga tidak takut terkena musibah atau jatuh miskin. Orang zuhud juga tidak perduli dengan pujian atau celaan karena hatinya tidak mengistimewakan apapun selain Allah. Orang zuhud lebih mengharapkan apa yang ada di sisi Allah dibanding dengan harta benda yang dimilikinya.

“Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi SAW lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah dll).

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674

Harta dunia dan akhirat

Keluarga, harta dan amal yang kita miliki akan menemani dan mengantar kita bahkan sampai kita dikuburkan di liang lahat. Keluarga dan harta yang kita miliki akan tetap di alam dunia dan hanya amal yang akan menyertai kita dalam kehidupan di alam akhirat. Supaya keluarga dan harta benda yang kita miliki juga mendatangkan manfaat untuk kita hingga di alam akhirat, pergunakanlah keduanya dengan sebaik-baiknya.

Lakukan amal kebaikan terhadap sanak keluarga kita agar anak2 kita menjadi anak2 yang shaleh dan shalehah yang akan mendokan kita kendati kita telah tiada. Sedékahkan harta benda yang kita miliki dengan benar karena sesunguhnya itulah harta kita yang sesungguhnya dan akan menyertai kita di kehidupan abadi.

“Dari Abdullah bin Abu Bakar RA, Aku mendengar Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, mayat diantarkan oleh tiga hal. Akan tetapi dua akan pulang kembali dan satu akan tetap bersamanya. Tiga hal yang mengikuti mayat adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Keluarga dan harta akan kembali pulang, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga sedekah utama

Ada 3 sedekah utama yang dapat kita lakukan, yakni memberikan belanja untuk keluarga, membiayai perjalanan ibadah dan membantu sesama muslim yang sedang berjuang di jalan Allah. Memberikan belanja untuk keluarga sejatinya adalah bentuk tanggung jawab kepala keluarga terhadap anggota keluarganya, namun di sisi Allah hal ini dinilai sebagai sedekah yang utama.

Sedekah utama yang kedua adalah membiayai perjalanan seseorang yang sedang melakukan perjalanan ibadah seperti mengunjungi masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjidil Aqsa, umroh, haji, kunjungan silaturahim ke tempat jauh, dan sebagainya. Sedekah utama juga dapat dilakukan dengan membantu sesama muslim yang sedang berjuang di jalan Allah, yakni para mujahid yang sedang berperang membela agama Allah, para aktivis amar ma’ruf nahi munkar yang berjuang secara mandiri ataupun kelompok, para pendakwah yang mengajarkan agama, dan sebagainya.

“Dari Tsauban bin Bujdud, ia berkata Rasulullah telah bersabda : ‘seutama-utama dinar yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang dibelanjakan untuk keluarganya, dinar yang dibelanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah dan dinar yang dibelanjakan untuk kawan2nya di jalan Allah” (HR. Muslim)