KAJIAN HADITS | MULYO WIHARTO – ADD WA 0822 1330 1377 | Page 2

Coklat, Al Qur’an dan dakwah

COKLAT, AL QUR’AN DAN DAKWAH

Jad adalah seorang anak berusia 10 tahun dan beragama Yahudi. Setiap kali

berbelanja ke toko milik Ibrahim yang beragama Islam, Jad selalu mencuri

coklat.Suatu saat Jad lupa mengambil coklat seperti biasanya sehingga Ibrahim

memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya.

Jad sangat terkejut karena selama ini ternyata Ibrahim tahu perbuatanya. Jad

meminta maaf dan Ibrahim pun memaafkan bahkan berkata, “Setiap kali kamu

keluar dari sini, ambilah coklat. Semua itu milik kamu” Kejadian ini membuat Jad

dekat dengan Ibrahim.

Setiap menghadapi masalah, Jad selalu berkonsultasi dengan Ibrahim yang selalu

menggunakan buku untuk membantu Jad memecahkan masalah yang

dihadapinya.Ketika Ibrahim meninggal dunia, buku itu dihadiahkan kepada Jad dan

setiap kali menghadapi masalah Jad menggunakannya untuk memecahkan

masalah.

Buku itu berbahasa Arab sehingga Jad selalu minta bantuan teman yang mengerti

bahasa Arab untuk membacakannya seperti yang dilakukan oleh Ibrahim. Selama ini

buku berbahasa Arab itu selalu membantu Jad untuk memecahkan masalahnya

sehingga membuat Jad penasaran.

Dia bertanya kepada temannya yang mengerti bahasa Arab, apa nama buku itu dan

dijawab oleh temannya bahwa buku berbahasa Arab itu adalah Al Qur’an. Akhirnya,

Jad menjadi seorang mualaf dan mengubah namanya menjadi Jadullah Al Qur’ani.

Setelah mendalami isi Al Qur’an, Jad mengembara ke Kenya untuk menyebarkan

ajaran Islam. Pada saat Jad wafat pada tahun 2005, lebih dari 6 juta penduduk

Kenya telah di-Islam-kannya. Ibunya yang seorang dosen dan beragama Yahudi

fanatik juga masuk Islam setelah Jad wafat. Subhanallah.

“Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda : ‘Setiap bayi itu dilahirkan

fitrah maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani

sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat

dari yang cacat?’”. (HR. Abu Dawud)

Bakti anak saleh

BAKTI ANAK SHALEH

Anak muda itu pundaknya lecet-lecet. Dia berasal dari Yaman dan sedang berada di

sekitar Baitullah.

Anak muda itu ditanya : ‘Mengapa pundakmu lecet2 hai anak muda?’

Anak muda itu menjawab : ‘Aku mempunyai seorang ibu yang sudah uzur. Setiap

hari aku selalu menggendongnya kemana pun pergi”

Anak muda itu ditanya lagi : “Tapi mengapa sampai punggungmu lecet2 sedemikian

bànyaknya hai anak muda?”

Anak muda itu menjawab : “Aku mencintai ibuku dan aku tak pernah melepaskan

gendongannya kecuali sedang membuang hajat, sholat atau beristirahat”

Anak muda itu balik bertanya : “Apakah aku sudah termasuk golongan orang yang

berbakti kepada orang tua?”

Anak muda itu dipeluk dan mendapatkan jawaban : “Dirimu sungguh sangat berbakti

kepada orang tua dan Allah meridhoi perbuatanmu. Tapi ketahuilah anak muda, apa

yang kamu lakukan belum sepadan dengan kasih sayang dan cinta yang diberikan

kepadamu sejak engkau masih di dalam kandungan”

Orang yang memeluk dan berkata-kata kepada anak muda itu adalah Rasulullah

SAW yang menjumpainya tatkala beliau selesai mengerjakan thawaf.

Anak muda itu berjanji untuk terus berbakti pada orang tuanya kendati orang tuanya

sudah meninggal kelak. Berbakti selagi orang tua masih hidup dan berbakti ketika

oraang tuanya sudah meninggaal dengan senantiasa mendoakan orang tuanya agar

mendapat ampunan di sisi Allah.

“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara;

shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya” (HR

Bukhari dan Muslim)

Ada alasan untuk bercerai

Ada alasan untuk bercerai…..

 

Tak selamanya rumah tangga yang dibina oleh sepasang suami isteri itu berjalan indah meskipun rumah tangga yang sakinah sangatlah didambakan, terutama dalam hal pemberian nafkah. Suami wajib memberikan nafkah lahir dan batin tehadap istri dan anak2nya, maka dia akan berdosa jika melalaikan kewajibannya ini terlepas dirinya mampu ataupun tidak mampu memberikannya.

 

Jika suami memiliki kemampuan harta namun tidak mau memberikannya, maka ssteri dapat mengambil haknya dengan sepengetahuan suami atau tanpa sepengetahuan suami, baik dengan tangannya sendiri atau melalui hakim Pengadilan Agama. Jika nafkah yang menjadi haknya tersebut tidak dapat diambil, maka sang isteri dapat menuntut perceraian. Jika isteri gagal mendapatkan nafkah karena suaminya miskin, hartanya tidak diketahui keberadaannya atau suaminya menghilangkan hartanya maka isteri dapat menggugat perceraian ke pengadilan agama.

 

Saat menikahi isterinya, sang suami telah menngucapkan sighat takliq di depan petugas KUA dan pengadilan agama mempunyai wewenang untuk memaksa seorang suami memenuhi kewajiban memberi nafkah kepada isteri dan anak2nya atau memisahkan suami dari isterinya. Hakim dapat memutuskan perceraian karena suami telah melanggar salah satu poin dalam shighat takliq, sebagai berikut ::

(1) Meninggalkan isteri selama dua tahun berturut-turut

(2) Tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama tiga bulan lamanya

(3) Menyakiti badan/jasmani isteri atau

(4) Membiarkan (tidak mempedulikan) isteri selama enam bulan.

 

“Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Dawud).

 

”Menggenggam (istri) dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al Baqarah : 229).

Jangan main2 dengan kata cerai

Jangan main2 dengan kata cerai ….

 

Seorang suami terkadang merasa tidak menyukai perilaku isterinya yang dinilainya kurang patut atau melanggar syariat agama. Suami yang buruk akan mensikapinya dengan keras bahkan kalau sudah memuncak kemarahannya akan terlontar kata2 yang mengarah perceraian. Ucapan “cerai” dan ucapan yang semaksud dengan ucapan itu tidak serta merta membuat suami isteri bercerai apa lagi bila diucapkan dengan marah dan tanpa niat untuk menceraikan.

 

Meskipun demikian, seorang suami tidak boleh bermain2 atau sembarangan mengucapkan kata “cerai” di depan isterinya, karena bisa jadi akan jatuh talak meskipun diucapkan dengan bergurau, apa lagi jika ucapan tersebut dilakukan dengan sungguh2 dan disertai dengan niat.

 

Seorang suami terkadang berselisih dengan isterinya karena sesuatu hal sehingga secara sungguh2 atau bergurau, tercetuslah kata2 yang bermakna perceraian. Kata2 seperti “aku ceraikan kamu” “baiknya kita pisah saja” “sebaiknya kita akhiri hubungan kita” dan kata2 yang senada dengan kata2 itu sudah cukup untuk membuat perceraian dapat terjadi, terutama kalau disertai niat.

 

Pertengkaran atau perselisihan suami isteri terkadang memang mengarah kepada penceraian, namun penceraian ini tidak boleh dijadikan sebagai langkah pertama dalam menyelesaikannya. Hendaknya diusahakan berbagai cara untuk menyelesaikannya, karena kemungkinan besar akan banyak rasa penyesalan yang ditimbulkan kelak dikemudian hari.

 

“Ada 3 hal yang kesungguhannya dan gurauannya sama2 dianggap sungguh2 yaitu : Nikah, talak (cerai) dan Rujuk” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

“Apabila kamu mentalak isteri2mu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula)” (QS. Al Baqarah : 231).

MULYO WIHARTO – ADD WA 0822 1330 1377