Pernikahan yang dzalim

Pernikahan yang zalim …

 

Seorang raja yang sudah memiliki 99 isteri menginginkan isteri seorang petani agar diserahkan menjadi isterinya sehingga genap memiliki 100 isteri. Sang petani tidak berani menolak dan diserahkanlah isterinya kepada sang raja dengan hati terpaksa.

 

Pada suatu hari datanglah dua orang yang bersengketa menghadap sang raja. Orang pertama berkata, “Kami adalah 2 orang yang sedang berperkara dan salah satunya telah berbuat zalim. Saudara ini mempunyai 99 ekor kambing betina sedangkan saya hanya mempunyai 1 ekor. Dia mengingin kambingku dan saya terpaksa menyerahkan kepadanya karena kalah berdebat”

 

Orang itu melanjutkan, “Berilah kami keputusan yang adil, tidak menyimpang dari kebenaran dan tunjukkan kami ke jalan yang lurus”

 

Sang raja berkata kepada orang itu, “Kebanyakan orang2 yang berserikat itu senang berbuat zalim kepada yang lain kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh. Sungguh, dia telah berbuat zalim dengan meminta kambingmu itu”

 

Setelah mengatakan demikian, sang raja teringat perbuatannya dan segera menyadari kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap petani beberapa waktu yang lalu. Sang raja itu yang tidak lain adalah Nabi Dawud AS mengetahui bahwa Allah telah menegur perbuatannya dan segera sujud taubat kepada Allah untuk tidak berbuat zalim lagi.

 

Dua orang yang bersengketa adalah malaikat yang menyamar sebagai manusia untuk menyadarkan Nabi Dawud AS yang sedang khilaf. Begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin yang pernah melakukan kesalahan, segeralah bertaubat dan bertekadlah untuk tidak mengulangi kesalahannya itu.

 

“Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang yang banyak bertaubat” (HR. Tirmidzi)

 

Cerita tentang isteri nabi Dawud yang berjumlah 99 diambil dari tafsir Al Qur’an surat Shad ayat 21-25. Dalam kisah tersebut tidak dijelaskan bahwa Nabi Dawud kemudian menikahi wanita yang diinginkannya itu, karena Nabi Dawud kemudian sadar akan kekeliruannya kemudian mohon ampun dan sujud taubat setelah ditegur oleh Allah dengan mengirimkan malaikat-Nya.

 

Kalau cerita yang dinilai israiliyat itu bukan cerita seperti yang saya share. Dalam cerita itu dikatakan Nabi Dawud mengirim seorang prajurit bernama Uria (suami wanita yang diinginkan oleh Nabi Dawud) ke medan perang supaya terbunuh. Pada hari kiamat kelak Uria akan menenteng kepalanya yang berlumuran darah dan menuntut tanggung jawab Nabi Dawud. Allah kemudian mengampuni Nabi Dawud dan meminta keikhlasan Uria dengan memberi balasan berupa surga. Kisah itu diriwayatkan oleh Yazid Ar Ruqasyi dan termasuk dalam riwayat hadits yang matruk (harus ditinggalkan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>