Suami yang shaleh

“Manakala datang seorang pria yang kuat agamanya dan mulia akhaknya (untuk meminang putri kalian), maka nikahkanlah (putri kalian dengannya). Jika tidak, niscaya akan menimbulkan fitnah (bahaya) di muka bumi dan akan menyebabkan kerusakan yang besar” (HR. Tirmidzi).

Suami yang shaleh dapat diperoleh seseorang dengan melakukan ta’aruf yang mengantarkannya pada keyakinan bahwa calon suami yang dipilihnya itu adalah lelaki yang beriman dan beramal shaleh. Orang yang beriman dan beramal shaleh dapat dilihat dari perilakunya sebelum dan sesudah ta’aruf, kemudian perilakunya itu berlanjut setelah meminang dan resmi menjadi seorang suami.

Suami yang shaleh memiliki konsistensi atau kesesuaian dalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya sebagaimana perilaku orang yang beriman (mukmin). Seorang mukmin telah mengikrarkan keyakinannya dalam hati, mengucapkannya dengan lisan dan mengamalkannya dengan perbuatan yang istiqomah.

Suami yang shaleh akan mewujudkan keimanannya dalam perilaku sehari-hari di dalam rumah ataupun di luar rumah tangganya, antara lain rajin mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Suami yang shaleh selalu menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka dan tidak bosan2nya mengajak orang lain untuk berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar.

“Yaitu orang2 yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar dan kepada Allah lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj : 41).

Harap di share kembali, insya Allah berbuah pahala bagi anda….

Wassalamualaikum,
Mulyo Wiharto
http://facebook.com/mulyo.wiharto
PIN BB 2812A674
*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>